Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2012

TRAGEDI MINGGU PAGI



Minggu, 22 April 2012 tepat pukul 09.00 aku terbangun karena mendengar suara Devi memanggil namaku. Aku langsung keluar menemui Devi, setelah itu Devi memintaku untuk membantu membaiklin baju seragamnya. Kita langsung membersihkan baju itu didepan kamar Eva, setelah selesai aku berniat kembali ke kamar. Aku berdiri kemudian memakai sandalku, dan kecelakaan itu pun terjadi kaki kiri aku tepatnya tumit menginjak jarum pentol kecil. Dengan histeris aku teriak sambil memanggil nama Devi. Tanpa pikir panjang aku langsung mencabut jarum itu. Cabutan pertama gagal, aku mencoba mencabutnya lagi dengan sedikit bertenaga. Pada saat mencabut terasa ngilu dan sereset-sereset gimana gitu (hihi...) akhirnya jarum itu pun tercabut dan seketika itu darah mengalir banyak. Ternyata eh ternyata jarumnya berkarat dan setengah dari jarum itu lhooo yang masuk huhu :'(, semuanya panik (Ate Yuli, Devi, Eva, Rifa, Ibu Kos) langsung sibuk nyari kapas dan betadin. Pertama aku dep pake kapas tapi tak berhasil, kemudian aku dep pake kapas yang diberi betadin.            Ate Yuli menyarankan aku untuk dibawa ke puskesmas atau RS terdekat karena takut infeksi, tapi aku menolaknya karena aku rasa tidak apa-apa. Kemudian Ibu kos menemuiku dan menyuruh aku ke puskesmas, Ibu takut terjadi apa-apa. Semuanya bingung karena hari minggu kan gak ada puskesmas yang buka, kalo ke RS kejauhan. Aku ingat di puskesmas Kramat ada UGD 24 jam, lalu Ibu menyuruh Rifa memanggil tukang ojek (secara dkostan gk ada motor :D).            Aku pun pergi ke UGD dantar Devi dengan 1ojeg (tuti nii, padahal badan Devi gede banget :D piss Dev). Sampailah kita di UGD itu, terlihat seorang perempuan yang setengah tua (kira-kira 40 tahunan) duduk di kursi ruang tunggu sambil menelpon. Kemudian kita masuk dan perempuan itu pun ikut masuk lalu menyuruh aku duduk dtempat tidur (aku kira dia keluarga pasien J). Masih dengan handphonenya sambil telponan perawat itu menanyakan apa yang terjadi padaku, kemudian menyuruhku berbaring. Perawat itu mengakhiri telponannya lalu menyiapkan alat yang mau digunakan, dalam pikiranku timbul pertanyaan “tindakan apa yang mau dilakukan ???” disitu aku ketakutan.
            Perawat itu pun memakai handskun steril tapi cara memakainya tidak menggunakan teknik steril (heloooo gk diajarin apa ya ?????) kemudian menyuntikan entah obat apa yang dia masukan (karena aku gk dikasi tau obat apa yang akan dia pakai) di area dekat tusukkan jarum itu sambil berkata “ jangan takut ya de” #jlebb. Aku memegang erat tangan Devi saat perawat itu menyuntik, karena lumayan sakit saat jarum suntikan itu masuk. Tindakan selanjutnya yaitu membedah luka yang tertusuk itu, dan mengorek-ngoreknya (baca: membersihkan dan mengeluarkan darah lagi) !!!! sakit sich gk ya tapi kedengerannya itu loch wawww luar binasa :D bikin ngilu. Tindakan itu tidak berlangsung lama ya sekitar 10 menit lah alhamdulillah yaa. Setelah selesai perawat itu membereskan alat dan membuka handskunnya, akupun bangun dan berniat turun dari tempat tidur tapi perawat mencegah ku turun dan berkata “jangan dulu bangun de, belum selesai 1 lagi”. Hmmm akupun syok dan berpikir mau diapakan lagi kaki ini ?????
            Perawat itu menghampiriku lagi dengan membawa 1 cc spuit yg siap di injeksikan pada bokongku. Aku menanggalkan sedikit pakaian bawahku, kemudian perawat itu menginjeksikannya dibokong TANPA memakai handskun !!! (helooooo APD nya gimana ini ???). Sekarang semuanya telah selesai, aku diberi obat antibiotik dan demam kemudian kembali kekostan.



            Sesampainya dikostan aku istirahat sejenak, kemudian meneruskan rutinitas ku sebagai anak kostan (nyuci, ngepel, nyetrika, dsb) karena hari itu hari minggu. Waktu terus berlalu dan malam pun tiba, kaki aku terasa sakit aku coba menahannya tapi tak kuasa air mata ini keluar. Tak kuasa menahan rasa sakitnya aku menangis kencang dan mengundang perhatian semua penghuni kostan (gk bermaksud buat mereka khawatir). Semuanya menenangkan aku dan menyuruh aku tidur supaya tidak terasa sakit lagi, dan aku menuruti saran mereka.
            Esok harinya kaki ku masih terasa sakit, tak sanggup rasanya harus jalan kaki ke kampus dan naik ke lantai 3. Devi menyarankan ku untuk tidak masuk kuliah dulu dan aku pun mngikuti sarannya. Satu hari aku tidak masuk kuliah, rugi rasanya dan tak enak juga berdiam diri di kostan sendirian. Esoknya aku memutuskan untuk masuk kuliah, walaupun masih terasa sakit.
            Hari demi hari aku lewati dengan kondisi kaki yang masih sakit dan jalan pun terpincang-pincang. Seminggu berjalan masih sama kondisinya, 2 minggu pun tetap juga dan sekarang hampir 1 bulan masih terasa sakit dan jalan pun sedikit jinjit -___-".
            Ya Allah berikanlah hamba kesembuhan untuk bisa menjalani hari-hari ini seperti sedia kala. Amiiiin