Minggu, 22 April 2012
tepat pukul 09.00 aku terbangun karena mendengar suara Devi memanggil namaku. Aku
langsung keluar menemui Devi, setelah itu Devi memintaku untuk membantu
membaiklin baju seragamnya. Kita langsung membersihkan baju itu didepan kamar
Eva, setelah selesai aku berniat kembali ke kamar. Aku berdiri kemudian memakai
sandalku, dan kecelakaan itu pun terjadi kaki kiri aku tepatnya tumit menginjak jarum pentol
kecil. Dengan histeris aku teriak sambil memanggil nama Devi. Tanpa pikir
panjang aku langsung mencabut jarum itu. Cabutan pertama gagal, aku mencoba
mencabutnya lagi dengan sedikit bertenaga. Pada saat mencabut terasa ngilu dan sereset-sereset
gimana gitu (hihi...) akhirnya jarum itu pun tercabut dan seketika itu darah
mengalir banyak. Ternyata eh ternyata jarumnya berkarat dan setengah dari jarum itu lhooo yang masuk huhu :'(, semuanya panik (Ate Yuli, Devi,
Eva, Rifa, Ibu Kos) langsung sibuk nyari kapas dan betadin. Pertama aku dep
pake kapas tapi tak berhasil, kemudian aku dep pake kapas yang diberi betadin. Ate Yuli menyarankan aku untuk dibawa ke puskesmas atau
RS terdekat karena takut infeksi, tapi aku menolaknya karena aku rasa tidak
apa-apa. Kemudian Ibu kos menemuiku dan menyuruh aku ke puskesmas, Ibu takut
terjadi apa-apa. Semuanya bingung karena hari minggu kan gak ada puskesmas yang
buka, kalo ke RS kejauhan. Aku ingat di puskesmas Kramat ada UGD 24 jam, lalu
Ibu menyuruh Rifa memanggil tukang ojek (secara dkostan gk ada motor :D). Aku pun pergi ke UGD dantar Devi dengan 1ojeg (tuti nii,
padahal badan Devi gede banget :D piss Dev). Sampailah kita di UGD itu,
terlihat seorang perempuan yang setengah tua (kira-kira 40 tahunan) duduk di
kursi ruang tunggu sambil menelpon. Kemudian kita masuk dan perempuan itu pun
ikut masuk lalu menyuruh aku duduk dtempat tidur (aku kira dia keluarga pasien J).
Masih dengan handphonenya sambil telponan perawat itu menanyakan apa yang
terjadi padaku, kemudian menyuruhku berbaring. Perawat itu mengakhiri
telponannya lalu menyiapkan alat yang mau digunakan, dalam pikiranku timbul
pertanyaan “tindakan apa yang mau dilakukan ???” disitu aku ketakutan.
Perawat itu pun memakai handskun steril tapi cara
memakainya tidak menggunakan teknik steril (heloooo gk diajarin apa ya ?????)
kemudian menyuntikan entah obat apa yang dia masukan (karena aku gk dikasi tau
obat apa yang akan dia pakai) di area dekat tusukkan jarum itu sambil berkata “
jangan takut ya de” #jlebb. Aku memegang erat tangan Devi saat perawat itu
menyuntik, karena lumayan sakit saat jarum suntikan itu masuk. Tindakan selanjutnya
yaitu membedah luka yang tertusuk itu, dan mengorek-ngoreknya (baca:
membersihkan dan mengeluarkan darah lagi) !!!! sakit sich gk ya tapi
kedengerannya itu loch wawww luar binasa :D bikin ngilu. Tindakan itu tidak
berlangsung lama ya sekitar 10 menit lah alhamdulillah
yaa. Setelah selesai perawat itu membereskan alat dan membuka handskunnya,
akupun bangun dan berniat turun dari tempat tidur tapi perawat mencegah ku
turun dan berkata “jangan dulu bangun de, belum selesai 1 lagi”. Hmmm akupun
syok dan berpikir mau diapakan lagi kaki ini ?????
Perawat itu menghampiriku lagi dengan membawa 1 cc spuit
yg siap di injeksikan pada bokongku. Aku menanggalkan
sedikit pakaian bawahku, kemudian perawat itu menginjeksikannya dibokong TANPA memakai
handskun !!! (helooooo APD nya gimana ini ???). Sekarang semuanya telah selesai,
aku diberi obat antibiotik dan demam kemudian kembali kekostan.
Sesampainya dikostan aku istirahat sejenak, kemudian
meneruskan rutinitas ku sebagai anak kostan (nyuci, ngepel, nyetrika, dsb)
karena hari itu hari minggu. Waktu terus berlalu dan malam pun tiba, kaki aku
terasa sakit aku coba menahannya tapi tak kuasa air mata ini keluar. Tak kuasa
menahan rasa sakitnya aku menangis kencang dan mengundang perhatian semua
penghuni kostan (gk bermaksud buat mereka khawatir). Semuanya
menenangkan aku dan menyuruh aku tidur supaya tidak terasa sakit lagi, dan aku
menuruti saran mereka.
Esok harinya kaki ku masih terasa sakit, tak sanggup
rasanya harus jalan kaki ke kampus dan naik ke lantai 3. Devi menyarankan ku
untuk tidak masuk kuliah dulu dan aku pun mngikuti sarannya. Satu hari aku
tidak masuk kuliah, rugi rasanya dan tak enak juga berdiam diri di kostan
sendirian.
Esoknya aku memutuskan untuk masuk kuliah, walaupun masih terasa sakit.
Hari demi hari aku lewati dengan kondisi kaki yang masih
sakit dan jalan pun terpincang-pincang. Seminggu berjalan masih sama
kondisinya, 2 minggu pun tetap juga dan sekarang hampir 1 bulan masih terasa
sakit dan jalan pun sedikit jinjit -___-".
Ya Allah berikanlah hamba kesembuhan untuk bisa menjalani
hari-hari ini seperti sedia kala. Amiiiin
